Mengetahui Kadar dan Kedudukan Para Ulama serta bagaimana menyikapi mereka

Bismillahirrahmanirrahiim

Alhamdulillah, wassholatu wassalamu ‘ala Rosulillah amma ba’du:

Mengetahui Kadar dan Kedudukan Para Ulama
serta bagaimana menyikapi mereka

Tidak disangkal bahwa para ulama adalah pewaris para Nabi keutamaan mereka sesuai dengan kadar ilmu yang mereka bawa, dalil yang memperkuat kedudukan mereka sangatlah banyak diantaranya adalah perintah Allah Ta’ala untuk mentaati mereka Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah, taatilah Rosul shallallaahu’alaihi wasallam, dan juga para pemimpin diantara kalian. [An Nisa: 59]

Kalimat ” ulil amri ” mencakup para ulama lihat tafsir ibnu katsir juz: 8 hal: 492, tafsir at thobari juz: 8 hal: 501

Mentaati mereka adalah karena apa yang mereka bawa dari agama Allah, bukan taat kepada dzat mereka tanpa sebab. Hal ini sebagaimana yang disebutkan didalam ayat diatas: ketika Allah memerintahkan taat kepada_Nya menyebutkan kalimat “athi’u” yang artinya taatilah secara tersendiri begitu pula ketika memerintahkan untuk taat kepada Rosul_Nya menyebutkan kalimat “athi’u” yang artinya taatilah secara tersendiri, hal ini menunjukkan ketaatan yang mutlaq kepada keduanya, berbeda halnya ketika Allah memerintahkan mentaati ulil amri Allah tidak mengulang kalimat ” athi’u “/ taatilah yang mana ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada para ulama terbatas kepada apa yang mereka bawa dari perintah Allah serta Rosul_Nya.

Dalil yang kedua : Perintah Allah untuk bertanya kepada mereka, Allah berfirman:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: Maka bertanyalah engkau kepada orang yang berilmu jika engkau sekalian tidak tahu.[An Nahl: 43]

Dalil yang ketiga : Allah membedakan kedudukan mereka dari kedudukan selainnya, Allah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: Katakanlah: “Apakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [Az Zumar: 9]

ini adalah istifham ingkari yaitu pertanyaan yang tujuannya adalah untuk mengingkari kesaman antara orang yang berilmu (ulama) dengan selainnya.

dalil yang ke empat: Keselamatan manusia tergantung pada keberadaan mereka, Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ النَّاسِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَتْرُكْ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

 

Artinya: Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan sebenar benarnya mencabut dari manusia akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama sehingga jika tidak tersisa lagi seorang ulama’ pun maka manusia akan menjadikan orang yang tidak berilmu sebagai peminpin kemudian mereka bertanya -tentang perkara agama maupun dunia pen.- kepadanya, maka kemudian diapun memberikan fatwanya tanpa bersandar kepada ilmu sehingga dia tersesat dan bahkan menyesatkan manusia yang tadi bertanya kepadanya. [Hadits muttafaq 'alaihi]bila demikian maka hak para ulama’ untuk dimulyakan sangatlah besar karena memulyakan mereka pada hakekatnya adalah memulyakan Allah dan agama_Nya. sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam sunannya:

إِنَّ مِنْ إِجْلاَلِ اللَّهِ إِكْرَامَ ذِى الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِى فِيهِ وَالْجَافِى عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِى السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

Artinya: Sungguh diantara bentuk mengagungkan Allah adalah dengan cara memulyakan seorang syekh yang besar (ulma’ besar) muslim -di dalam majelisnya, dan bersikap lemah lembut kepadanya juga mencintainya lihat ‘aunul ma’bud juz: 10 hal: 365- demikian pula kepada para hafiz (orang yang hafal) al qur’an tanpa merlebihan dalam memulyakan mereka juga tanpa mengurangi hak-hak mereka, memulyakan pemimpin terlebih yang adil dalam kepemimpinanya.

Bahkan disebutkan dalam sebuah hadits marfu’ (sampai sanadnya kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam) yang diriwayatkan oleh ibnu ‘Abbas dan dishohihkan ibnu Hibban dan hadits ini juga mempunyai penguat

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَلَمْ يُوَقِّرْ كَبِيْرَنَا وَيَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَ عَنْ الْمُنْكَرِ وَ يَعْرِفُ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ

Artinya: Tidak termasuk golongan kita -orang mukmin- orang yang tidak mengasihi anak kecil, dan menghormati orang tua, memerintahkan kebaikan dan mencegah perbuatan mungkar dan tidak tahu hak-hak seorang ‘alim -yaitu tidak memberikan hak-hak orang yang berilmu dengan cara memulyakannya pen-.

Memulyakan ulama adalah bagian dari sunnah dan bahkan bagian dari ajaran agama, Thowus mengatakan: ” Termasuk bagian dari sunnah (ajaran Islam) memulyakan empat orang:  seorang ‘alim (orang yang berilmu), orang yang sudah tua, penguasa dan kedua orang tua. Perhatikan contoh-contoh para ulama terdahulu memulyakan seorang ‘alim (orang yang berilmu) sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma anak dari paman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memegang tali kekang kendaraan yang ditunggangi oleh Zaid bin Tsabit seraya mengatakan: ” demikianlah kami diperintahkan oleh Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam untuk memulyakan para ulama dan orang yang lebih tua. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma juga pernah berkata: Aku senang mencari perkara agama, dan aku selalu mencari tahu siapa diantara para sahabat Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang mempunyai jawaban berupa riwayat dari Rosulullaah shallallaahu ‘alaihi wasallam namun ketika aku sampai didepan rumahnya sedang beliau dalam keadaan tidur qoilulah (yaitu tidur sebelum sholat dluhur) maka aku bentangkan selendangku di sisi depan pintu rumah beliau sampai beliau keluar dari rumahnya menuju ke masjid.

Perhatikanlah Ibnu ‘Abbas tidak mengetok pintu sehingga membangunkan sahabat tersebut yang dianggapnya ‘alim, ini adalah adab beliau terhadap para ulama, perbuatannya ini disandarkan kepada firman Allah Ta’ala dalam surat Al Hujurat ayat yang kelima yang mana sebelumnya Allah mengatakan: Sesungguhnya orang-orang yang memanggil kamu (Nabi shallallahu’alaihi wasallam) dari luar kamar(mu) kebanyakan mereka tidak berakal, lalu Allah berfirman:

وَلَوْ أَنَّهُمْ صَبَرُوا حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu keluar menemui mereka sesungguhnya itu lebih baik bagi mereka, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Bagaimanakah komentar dari sahabat tersebut ketika melihat Ibnu ‘Abbas tidur di depan pintu rumahnya: “wahai anak paman Rosulullah shallallaahu’alaihi wasallam kenapa engkau melakukannya, tidakkah lebih baik engkau mengutus seorang utusan menjemputku untuk menemuimu dan menyampaikan hadits yang aku dengar dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam kepadamu ?” apa gerangan jawaban dari Ibnu ‘Abbas: ” Akulah yang semestinya datang menemuimu karena aku adalah tholibul ilmi (penuntut ilmu dan engkau adalah seorang ‘Alim”

Para ulama telah menulis kitab yang berbicara mengenai adab seorang ‘alim dan penuntut ilmu, diantaranya kitab Al Jami’ li akhlaqir raawi wa aadabis sami’ , Al Faqih Wal Mutafaqqih yang keduanya dikarang oleh Al Khotib Al Baghdadi dan kitab Jaami’u bayaanil ‘Ilmi wa fadhlih yang dikarang oleh Ibnu ‘Abdil Barr, dan masih banyak lagi.

Diantara perkataan ulama’ yang berbicara mengenai masalah ini adalah perkataan sahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang disebutkan didalam kitab Al Faqih Wal Mutafaqqih dan Jaami’ul Ahadiits : ” Diantara hak seorang Ulama’ adalah:

- Engkau tidak memperbanyak bertanya kepadanya.
- Engkau tidak mendebat jawaban yang diberikannya.
- Engkau tidak memaksanya jika ia enggan menjawab pertannyaanmu.
- Engkau tidak menarik bajunya untuk memaksanya duduk menjawab pertanyaanmu bila ia handank bangun berdiri dari majelis.
- Engkau tidak menceritakan sebuah rahasia kepadanya.
- Engkau tidak mengghibhi seseorang dihadapannya.
- Engkau tidak duduk didepannya (membelakanginya pen.) .
- Bila engkau menemuinya engkau ucapkan kata penghormatan khusus untuknya -seperti salam dan menanyakan kesehatannya-
- Lalu engkau lanjutkan mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada disekitarnya.
- Engkau menjaga rahasianya selama ia menjaga perintah Allah.
- Engkau tidak mencari cari kesalahanya dan seandainya engkau dapati darinya kesalahan maka engkau menerima udhurnya.
- Seandainya ia mempunyai kebutuhan maka engkau adalah orang yang pertama memenuhi kebutuhannya.
- Seorang ‘Alim seperti pohon Kurma yang mana engkau menunggu buahnya jatuh dengan sendirinya
- Seorang ‘Alim lebih utama dari seorang yang tengah berpuasa atau tengah mengerjakan sholat atau bahkan tengah berperang dijalan Allah

Semoga apa yang diriwayatkan dalam ayat-ayat, hadits-hadits, maupun atsar-atsar dari para sahabat dapat memberikan gambaran bagaimana semestinya seorang penuntut ilmu beradab dan menghiasi dirinya dengan akhlaq sebelum menuntut ilmu dihadapan seorang ‘alim

Ditulis oleh:

Subkhan Khadafi .Lc

keterangan tambahan:

seluruh maroji’ diambil dari maktabah syamilah

3 comments 9 June 2009

Pentingnya mempelajari ‘Aqidah yang benar 1

Aqidah

Continue Reading Add comment 4 June 2009


Pages

 

December 2009
M T W T F S S
« Jun    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Archives

Blogroll

Recent Comments

Ust Subkhan Khadafi … on Mengetahui Kadar dan Kedudukan…
Ust Subkhan Khadafi … on Mengetahui Kadar dan Kedudukan…
YAHYA AL BUNY on Mengetahui Kadar dan Kedudukan…

Categories